Posted by
titikaya,
Published on
26 November 2010
YAKUZA MOON
Dikisahkan, Shoko Tendo terlahir sebagai seorang putri seorang Yakuza - mafia Jepang. Namanya juga Yakuza, kehidupan ala gangster Ayahnya telah menjadi sarapan matanya setiap hari : Tato, hostess dan preman Yakuza lainnya. Masa kecilnya dilalui di rumah mewah (versi jepang saat itu), sebagai anak preman berduit. Kehidupan seorang Yakuza ternyata tidaklah selalu diliputi kemudahan dan bergelimang harta. Ayahnya pernah masuk penjara karena memiliki banyak utang dan bahkan sampai akhirnya bangkrut, gara-gara terjebak lingkaran setan bunga utang.
Perang batin seorang Shoko Tendo telah ‘hidup’ semenjak Ia masih kecil.Semasa sekolah dasar, ia sudah dijauhi tetangga dan teman-temannya karena ia seorang anak yakuza. Ia dikerjai habis-habisan, secara fisik dan verbal. Kepercayaannya kepada orang lain hilang. Ia tenggelam dalam kesendirian, tanpa peduli dengan kehidupan orang lain.
Masa sekolah menengah, Ia mulai terjerumus dalam kehidupan remaja Jepang yang liar. Ia mengikuti kakaknya, Maki yang terpaut usia dua tahun, ke Klub malam saat ia baru berusia 12 tahun. Di ‘dunia’ baru nya itu, ia menemukan teman-teman yang peduli padanya, yang tidak munafik bermuka dua. Saat itu, kehidupan Yakuza ayahnya sudah sangat hancur, penagih utang selalu datang ke rumahnya dan menghancurkan barang-barang di rumahnya. Shoko mulai ikut-ikutan perilaku teman-teman ‘geng’ barunya, menghirup thinner sampai mabuk. Umur 12 tahun, keperawanannya sudah hilang *apakah bagi gadis Jepang, mencoba sex memang hal yang biasa ya..? di komik juga kebanyakan begitu…*. Lalu, Shoko menjadi seorang pecandu narkoba.

Membaca novel ini ibarat membaca kehidupan Shoko Tendo itu sendiri. Didalam novelnya, Shoko mengaku tidak bisa menulis sama sekali, jadi apa yang ada di novel adalah jujur isi hatinya. Shoko menceritakan kepedihan hidupnya, betapa ia menderita dengan hidup menjadi anak seorang Yakuza, tapi ia tak pernah membenci ayahnya karena perlakuan orang lain terhadapnya. Aq kagum banget dengan jalan hidup Shoko. Shoko, mungkin mewakili karakter orang jepang lainnya adalah seorang pekerja keras *Weehh,,gak kebayang deh, hidup kayak Shoko dengan perlakuan orang lain yang jahat sama dia, bisa-bisa aq udah stress aja tuh..*. Walau badan tinggal tulang berbalut kulit, Shoko tetap gigih mengumpulkan duit, mewujudkan cita-citanya untuk memiliki rumah sendiri.
Aq kira, menjadi anak seorang Yakuza itu hidupnya enak banget. Semua serba gampang dan mudah, karena disegani orang-orang *begitu yang tersirat di komik-komik*. Setelah baca buku ini, baru tahu deh kenyataan pahit hidup sebagai seorang Yakuza, gak enak banget. Sayang banget di novel ini, Shoko gak membahas “Jepang”. yagh, boleh dibilang bukunya ‘gelap’ banget dengan cerita berfokus dengan kehidupan suramnya. Serius, ini buku wajib baca deh!!!
http://gurindang.wordpress.com/2008/09/0…